Kamis, 25 November 2010

In nerc ul t





Kami bukan penyelenggara
Kami ini cuma sekumpulan sapu
Yang berjuang membersihkan debu
Kami berkiprah untuk mereka
Semua kembali pulang, kepada diri sendiri
INNERCULT

(PAMERAN PERTAMA (nontugas) saya bersama Michael Killian (ketua) , Andro Kristian, Astari Haslim, Jonathan Ronaldo, Hans Setiadi, Samantha Dodds, Monica Tifannie, Filbert Watilette, Wayan Thaison, Putu Sridiniari, dan Celia Tjahyadi.

Jumat, 12 November 2010

Vakansi Anak Baik Baik

Jangan tertahan waktu!
ADA SELAMAT ULANG TAHUN TEMAN KAMI.

sudah ribuan detik saya tunggu waktu seperti ini
dipinggir sungai
berdandan lucu lucu
tidak minum-minum
tidak merokok
kami lurus!












PIKNIK DERMAGA BEGITU ASIK.
photography : Wangsit Firmantika
We : Je, Mug, Chat, Te, dan Hel

Roman Ketiga

Tidak kebut tidak lambat hati hati saja hei sayang.
Kami selasa siang siang tidak duduk rapih dikelas
Memulai romansa kami berlima
Jakarta Timur yang cukup berjarak itu
Kami taklukan dalam benda berAC yang mampu
Melesat 100 KM tanpa menabrak apapun

Bermain saja
Berfoto saja
Tidak mendapatkan ilmu
Tapi kami dapatkan sukacita atau tai nya Kebersamaan
Seperti filateli menemukan perangko yang hanya dicetak 1kali










photographs : Wangsit Firmantika
we : Rayhan, Edo, Suci, & Norman.
9/November/2010 TMII.

Sabtu, 06 November 2010

Malam Lebam

Iseng abis gue maen-maen ke Eastern Promise, K3m4ng. Kangen juga gue lama kaga kesini, ke gigs TTATW gitu terakhir kesini. Banget-bangetan sih Gribs nya. Walau, cuma kebagian satu lagu doang gara2 gue temu dan lawak ke Payon ngobrol2 gitu ama si Tante asdos. Tapi pol banget lah bang Reza dkk. Mana orangnya senyum2 terus.
Best!

photography by Wangsit Firmantika





Jumat, 10 September 2010

No Suicide Because

(nyoba foto2 lagi) today i realized i am allowed to be
HAPPY (photography by Wangsit Firmantika)

walk at the junction

and eat Italian ice cream


Sabtu, 04 September 2010

Rae!

Gambar terakhir, iseng2 kaga pulang ke Jakarta. Tetap dikosan. Uhui!

CORINNE BAILEY RAE



Kamis, 02 September 2010

Septembe(r)usak


Seraya manusia-manusia tanpa arah mulai sepakat kepada satu destinasi. Sebuah destinasi pasti. Yaitu, akhir tahun. Alam tidak mungkin kamu kelitik. Tapi nasib bisa kamu bidik. Yang seperti apakah yang kau mau tembak. Itulah nasibmu.

Erangan manusia-manusia yang kehilangan identitas mulai mencari-mencari tanda pengenalnya. Cari saja sana didubur gurumu, barangkali tertinggal disana. Patah. Tinggal setengah. Bingung.
Kadang meraung pun masalah menjadi semakin besar.

Peringai manusia-manusia semakin menjauh dari citra Tuhan. Ataukah benar kata ibu bahwa neraka sudah bocor sehingga iblis-iblis sekarang punya sayap dan jaring memenjarakan budi pekerti manusia 2010. Dan tidak akan pernah dilepaskannya lagi.

Tahi demi tahi sudah manusia berojolkan. Entah berapa banyak deodorant yang sudah kamu oles diketiakmu yang sudah menjadi hitam itu. Sroot! Aku tidak berbicara tentang lapisan-lapisan. Selaput. Apalah itu. Ini teknologi hitam. Lupakan pergi hijau. Pecundang.

Emosi. Semua emosi. Lihat saja jalanan aspal. Mana ada sumringah ibu pertiwi? Mana ada tatap ranum garuda pancasila. Semua saling hujat. Menyumpah serapahkan ketidak adaan. Kalian lebih baik tidak ada. Hai lalat. Semua saling menyalahkan. Apalah itu, lalat.

Masa tidak bisa dibeli. Dilakukan. Semua tentang tindakan. Bukan konsep hidup mulia atau teori pelacuran tentang kehidupan. Kamu bisa melukiskan betapa bohongnya hidup itu indah. Hidup itu tidak enak. Hidup enak para pesohorlah yang harus kamu tanyakan. Tapi, belajarlah berjuang. Bukan mengejar hidup enak. Tapi berlomba-lomba untuk memberi.

Bejat! Anjing! Bangsat! Tai! Pelacur! Titit! Kontol! Memek! vokabulari yang sekarang menjadi senandung anak-anak ingusan. Mendengarnya saja rasa ingin mengepang tititnya. Atau mengkonroinya kalau perlu.

Edukasipun berubah menjadi periklanan. Menonjolkan keunggulan semu namun menelorkan siswa pembunuh. Membunuh negeri sendiri. Menyulut batangan rokok, meranjangi pelacur cyber, dan meneriakan kebobrokan presiden sendiri. Dikira sempurnakah seorang presiden itu?

Rusak.